BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam
kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai berbagai bentuk tanaman dan
hewan. Dimana pada setiap tumbuhan atau hewan tersebut memiliki
keanekaragaman bentuk, warna, dan lain sebagainya.
Di
Indonesia, tanaman atau hewan yang memiliki keanekaragaman sangat
tinggi dilindungi dengan berbagai macam cara mulai dari membuat taman
nasional, cagar alam, suaka marga satwa, dan lain sebagainya.
Usaha-usaha
yang digunakan untuk melindungi taman tersebut memiliki manfaat yang
sangat berguna bagi masyarakat dengan bagaimana masyarakat itu sendiri
menggunakannya dengan baik atau tidak. Sebagian besar manfaat usaha
tersebut timbul karena adanya kerjasama dengan baik antara pengurus
usaha tersebut dengan masyarakat disekitarnya. Tetapi, jika masyarakat
melakukan eksploitasi sumber hayati terus-menerus tanpa melakukan
pelestariannya, maka diperkirakan usaha-usaha tersebut akan menimbulkan
dampak negative, serta punahnya tanaman dan hewan itu sendiri.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
latar belakang tersebut, makalah ini akan membahas mengenai Usaha
Pelestarian Keanekaragaman Hayati. Beberapa hal yang akan dikupas
diantaranya :
1) Pengertian dari Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati.
2) Macam-macam Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati.
3) Upaya yang digunakan dalam Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati.
4) Pelestarian Keanekaragaman Hayati
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :
1) Menjelaskan tentang Pengertian dari Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati.
2) Menjelaskan macam-macam Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati
3) Menjelaskan bagaiman upaya yang digunakan dalam Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati.
4) Menjelaskan mengenai Pelestarian Keanekaragaman Hayati
D. SISTEMATIKA PENULISAN
a. Halaman Judul
b. Kata Pengantar
c. Daftar isi
d. Bab I Pendahuluan
e. Bab II Tinjauan Pustaka
f. Bab III Metode Penulisan
g. Bab IV Pembahasan
h. Bab V Penutup
i. Daftar Pustaka
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bertitik
tolak dari pembahasan dalam penulisan makalah ini, penulis mendapatkan
tinjauan pustaka yang digunakan guna menyempurnakan penyusunan karya
tulis ini. Beberapa landasan teori tersebut adalah :
1) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
kata usaha memiliki arti: daya, ikhtiar, upaya. Kata pelestarian
memiliki arti : tak ada perubahan, tetap keadaannya seperti sedia kala,
kekal. Kata anekaragaman memiliki arti : keadaan yang bermacam-macam.
Kata hayati memiliki arti : berkenaan dalam hidup.
2) Dalam salah satu blog pendidikan di Internet Wikipedia.com, usaha pelestarian keanekaragaman hayati adalah usaha untuk melindungi kekayaan jenis flora dan fauna.
BAB III
METODE PENULISAN
Metode
yang digunakan oleh penulis untuk menyelesaikan makalah ini adalah
metode pustaka, yakni penulis menggunakan berbagai referensi buku untuk
penulisan makalah ini. Selain itu, karena telah berkembangnya teknologi
penulis juga mencari referensi melalui internet. Selain menggunakan
metode pustaka penulis juga menggunakan teknik analisis.
BAB IV
PEMBAHASAN
- Pengertian Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman
hayati atau biodiversitas merupakan himpunan seluruh populasi penghuni
biosfer, yaitu terdiri dari seluruh wilayah udara, tanah, dan air tempat
makhluk hidup tinggal. Di dalam makhluk hidup terkandung plasma nuftah
(germplasm), yaitu kisaran keanekaragaman genetic dari individu liar
sampai individu budidaya. Penyebab utama keanekaragaman makhluk hidup
ini adalah gem.Usaha pelestarian keanekaragaman hayati adalah usaha
untuk melindungi kekayaan jenis tumbuhan (flora) dan kekayaan hewan
(fauna), serta mikroorganisme untuk melestarikan agar tidak punah.
Keanekaragaman Hayati Indonesia Dalam Era Globalisasi
Indonesia
merupakan negara kepulauan dengan 18 ribuan pulau, bertempat tinggalnya
flora dan fauna dari dua tipe yang berbeda asal-usulnya yaitu bagian
barat (Indo-Malayan) dan bagian timur termasuk kawasan Pasifik dan Australia. Walaupun luas daratan hanya 1,3 % dari seluruh daratan bumi, tetapi Indonesia
memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang unik dan menakjubkan.
Sekitar 10% spesies berbunga, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptil
dan amphibia, 17% spesies burung serta 25% spesies ikan dunia yang
dikenal manusia terdistribusi di perairan Indonesia (BSP-Kemala, 2000).
Dengan panjang wilayah pesisir yang mencapai 81,000 kilometer atau
sekitar 14% dari panjang pantai dunia, maka ekosistem kelautan Indonesia
sangat kaya dan bervariasi. Hutan bakau Indonesia sangat luas dan memiliki jenis terumbu karang yang spektakuler di Asia. Perairan pesisir Indonesia
menjadi sumber makanan bagi sejumlah besar mamalia laut, reptil, ikan
dan burung-burung. Wilayah pesisir yang dangkal dengan terumbu karangnya
dan hutan bakau melindungi wilayah ini dari dampak pasang laut dan
tsunami. Secara tradisional terumbu karang menjadi sumber makanan yang
sangat penting bagi masyarakat pesisir. Bagaimana dengan hutan tropis Indonesia ? Indonesia diperkirakan memiliki kawasan hutan tropis terbesar di Asia-Pasifik
yaitu sekitar 1, 15 juta kilometer persegi dengan keanekaragaman jenis
pohon yang paling beragam di dunia. Hutan tropis Indonesia kaya akan
spesies palm (447 spesies, dimana 225 diantaranya tidak terdapat di bagian dunia lainnya), lebih dari 400 spesies dipterocarp yaitu
jenis kayu yang bernilai sangat tinggi secara ekonomis di Asia
Tenggara, dan tersebarnya sekitar 25,000 spesies tumbuhan berbunga
(Albar, 1997). Karena begitu kayanya keanekaragaman hayati Indonesia, sehingga menempatkan Indonesia
sebagai salah satu negara di dunia yang mempunyai jumlah keanekaragaman
hayati terbesar. Untuk pulau Jawa saja, jumlah spesies setiap 10.000 km2
antara 2000 – 3000 spesies. Sedangkan Kalimantan dan Papua mencapai
lebih dari 5000 spesies. Masih banyak keanekaragaman hayati Indonesia lainnya yang berpotensi dan berprospek secara ekonomis maupun keilmuan.
Keanekaragaman Hayati Dan Konservasinya Di Indonesia
Keanekaragaman
hayati merupakan ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai macam variasi
bentuk, penampilan, jumlah dan sifat, yang terlihat pada berbagai
tingkatan persekutuam makhluk hidup yaitu tingkatan ekosisitem,
tingkatan jenis dan tingkatan genetik. Keanekaragaman hayati menurut UU
NO 5 Tahun 1994 adalah keanekaragaman di antara mahluk hidup dari semua
sumber termasuk di antaranya daratan, lautan dan ekosistem akuatik lain,
serta komplek-komplek ekologi yang merupakan bagian dari
keanekaragamannya, mencakup keaneka ragaman dalam spesies, antara
species dengan ekosisitem. Berdasarkan definisi di atas ada 3 elemen
keaneka ragaman hayati yaitu, keaneka ragaman ekosisitem, keaneka
ragaman jenis dan keaneka ragaman genetik.
Penyebaran Sumberdaya Hayati Di Indonesia
Dipandang dari segi biodiversitas, posisi geografis Indonesia sangat menguntungkan. Negara ini terdiri dari beribu pulau, berada di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia, serta terletak di katulistiwa. Dengan posisi seperti ini Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman
hayati terbesar di dunia. Indonesia dengan luas wilayah 1,3% dari
seluruh luas muka bumi memiliki 10% flora berbunga dunia, 12% mamalia
dunia, 17% jenis burung dunia, dan 25% jenis ikan dunia.
Penyebaran tumbuhan, Indonesia tercakup dalam kawasan Malesia, yang juga meliputi Filipina, Malaysia
dan Papua Nugini. Kawasan ini ditentukan berdasarkan persebaran marga
tumbuhan yang ditandai oleh 3 simpul demarkasi yaitu (1) Simpul selat
Torres menunjukkan bahwa 644 marga tumbuhan Irian Jaya tidak bisa
menyeberang ke Australia dan 340 marga tumbuhan Australia tidak dijumpai
di Irian Jaya. (2) Tanah genting Kra di Semenanjung Malaya
merupakan batas penyebaran flora Malesia di Thailand. Demarkasi ini
menyebabkan adanya 200 marga tumbuhan Thailand yang tidak dapat menyebar
ke kawasan Malesia, dan 375 marga Malesia tidak dijumpai di Thailand.
(3). Simpul di sebelah selatan Taiwan
menjadi penghalang antara flora Malesia dan Flora Taiwan.. Adanya
demarkasi ini menyebabkan 40% marga flora Malesia tidak terdapat di luar
kawasan Malesia dan flora Malesia lebih banyak mengandung unsur Asia
dibanding unsur Australia.
Pecahnya benua selatan Gendawa pada 140 juta tahun yang lalu menjadi
paparan sunda (berasal dari benua utara laurasia) dan paparan Sahul
(berasal dari Gondawa) menyebabkan penyebaran tumbuhan yang terpusat di
paparan Sunda seperti jenis durian, rotan, tusam dan artocarpus.
Pola penyebaran hewan di Indonesia diwarnai oleh pola kelompok kawasan Oriental di sebelah barat dan kelompok kawasan Australia di sebelah Timur. Kedua kawasan ini sangat berbeda. Namun demikian karena Indonesia
terdiri dari deretan pulau yang sangat berdekatan, maka migrasi fauna
antarpulau memberi peluang bercampurnya unsur dari 2 kelompok kawasan
tersebut. Percampuran ini mengaburkan batas antara kawasan oriental dan
kawasan Australia..
Memperhatikan sifat hewan di Indonesia Wallace membagi kawasan
penyebaran fauna menjadi 2 kelompok besar yaitu fauna bagian barat
Indonesi (Sumatera, Jawa, Bali, Madura, Kalimantan) dan Fauna bagian
timur yaitu Sulawesi dan pulau di sebelah timumya. Dua kelompok fauna
ini mempunyai ciri yang berbeda dan dipiahkan ole garis Wallace (garis
antara Kalimantan dan Sulawesi, berlanjut antara Bali dan Lombok).
Hamparan kepulauan di sebelah timur garis Wallace dari semula memang tidak termasuk kawasan Australia, karena garis batas barat kawasan Australia
adalah Garis Lydekker yang mengikuti batas paparan Sahul. Dengan
demikian ada daerah transisi yang dibatasi Garis Wallace di sebelah
Barat dan garis Lydekker di sebelah timur. Di antara kedua garis ini
terdapat garis keseimbangan fauna yang dinamakan garis Weber. Karena
peluang pencampuran unsur fauna di daerah ini sangat besar, akibatnya di
daerah transisi ini terdapat unsur - unsur campuran antara barat dan
timur. Daerah transisi ini dinamakan Wallace. Dengan kondisi geografis
seperti ini mengakibatkan sumber daya hayati di Indonesia sangat kaya baik dalam jenis maupun jumlahnya.
Keanekaragaman Jenis
Indonesia
memiliki keaneka ragaman jenis yang kaya. Taksiran jumlah jenis
kelompok utama makhluk hidup sebagai berikut: Hewan menyusui 300 jenis;
Burung 7500 jenis; Reptil 2000 jenis; Amfibi 1000 jenis; Ikan 8500
jenis; keong 20000 jenis; serangga 250000 jenis. Tumbuhan biji 25000
jenis; paku pakuan 1250 jenis; lumut 7500 jenis; Ganggang 7800
jenisjamur 72 000 jenis; bakteri dan ganggang biru 300 jenis. (Sastra
pradja, 1989). Beberapa pulau di Indonesia memiliki spesies endemik, terutama di pulau Sulawesi; Irian Jaya dan di pulau Mentawai. Indonesia memiliki 420 specis burung endemik yang tersebar di 24 lokasi.
Keanekaragaman Genetik
Keaneka
ragaman genetik merupakan keanekaragaman sifat yang terdapat dalam satu
jenis. Dengan demikian tidak ada satu makhlukpun yang sama persis dalam
penampakannya. Matoa Pometia pinnata di Irian Jaya mempunyai 9 macam
penampilan dari seluruh populasi yang ada. Dengan kemampuan reproduksi
baik vegetatif dan generatif, populasi sagu di Ambon
mempunyai 6 macam pokok sagu yang berbeda. Berdasarkan jumlah jenis
durian liar yang tumbuh di Kalimantan yang jumlahnya mencapai 19 jenis,
diduga bahwa Kalimantan adalah pusat
keanekaragaman genetik durian. Dengan teknik budi daya semakin banyak
jenis tumbuhan hasil rekayasa genetik seperti padi, jagung, ketela,
semangka tanpa biji, jenis jenis anggrek, salak pondoh, dan lain-lain.
Keanekaragaman plasma nutfah di Indonesia
tampak pada berbagai hewan piaraan. Ternak penghasil pangan yang telah
diusahakan adalah 5 jenis hewan temak yaitu sapi biasa, sapi Bali,
kerbau, kambing, domba dan babi. Dan 7 jenis unggas yaitu ayam, itik ,
entok, angsa, puyuh, merpati dan kalkun serta hewan piaraan yang lain
seperti cucak rowo, ayam bekisar, dan lain-lain. Keanekaragaman genetik
hewan ini tidak semuanya berasal dari negeri sendiri. Namun demikian
melalui proses persilangan jenis-jenis hewan ini memperbanyak khasanah
keanekaragaman genetik di Indonesia.
Aspek Kulturasi Sumberdaya Hayati Di Indonesia
Indonesia
memiliki kurang lebih 350 etnis dengan keanekaragaman agama,
kepercayaan, dan adat istiadatnya. Dalam upacara ritual keagamaan atau
dalam upacara adat banyak sekali sumber daya hayati yang dipergunakan.
Sebagai contoh, ummat Islam menggunakan sapi dan kambing jantan dewasa
pada setiap hari raya korban, sedangkan umat nasrani memerlukan pohon
cemara setiap natal. Umat Hindu membutuhkan berbagai jenis sumber daya
hayati untuk setiap upacara keagamaan yang dilakukan. Banyak jenis pohon
di Indonesia
yang dipercaya sebagai pengusir roh jahat atau tempat tinggal roh jahat
seperti beringin, bambu kuning (di Jawa). Upacara kematian di Toraja
menggunakan berbagai jenis tumbuhan yang dianggap mempunya nilai magis
untuk ramuan memandikan mayat misalnya limau, daun kelapa, pisang dan
rempah-rempah lainnya. Disamping itu dipergunakan pula kerbau belang .
Pada upacara ngaben di Bali dipergunakan
39 jenis tumbuhan. Dari 39 jenis tersebut banyak yang tergolong
penghasil minyak atsiri dan bau harum seperti kenanga, melati, cempaka,
pandan, sirih dan cendana. Jenis lain yaitu dadap dan tebu hitam
diperlukan untuk, kelapa gading diperlukan untuk menghanyutkan abu ke
sungai.
Pada
masyarakat Minangkabau dikenal juga upacara adat. Jenis tanaman yang
banyak dipergunakan dalam upacara adat ini adalah padi, kelapa, jeruk,
kapur barus, pinang dan tebu. Budaya nyekar di Daerah Istimewa
Yogyakarta merupakan upacara mengirim doa pada leluhur. Upacara ini juga
menggunakan berbagai jenis tumbuhan bunga yaitu mawar, kenanga, kantil,
dan selasih. Untuk pembuatan kembar mayang pada pesta perkawinan suku
Jawa dipergunakan jenis tumbuhan yaitu janur muda dari kelapa, mayang
(bunga pinang), beringin, kemuning, daun spa-spa (Flemingialineata),
daun kara (phaseolus lunatus), daun maja, daun, alang slang, daun kluwih
(Artocarpus cornmunis), daun salam, daun dadap, daun girang, dan daun
andhong. Disamping itu dikenal juga pemotongan ayam jantan untuk ingkung
yang biasanya ayam berbulu putih mulus atau ayam berbulu hitam mulus
(ayam cemani). Aneka tanaman yang dipergunakan untuk upacara memandikan
keris di Yogyakarta adalah jeruk nipis, pace, nanas, kelapa, cendana,
mawar, melati, kenanga, dan kemenyan Selain melekat pada upacara adat,
kekayaan sumber daya hayati Indonesia tampak pada hasil-hasil kerajinan
daerah dan kawasan. Misalnya kerajinan mutiara, dan kerang-kerangan di
Nusa Tenggara dan Ambon, kerajinan kenari di Bogor, daerah. Pada hari lingkungan hidup sedunia ke-18, Presiden RI
menetapkan melati sebagai puspa bangsa, anggrek bulan sebagai puspa
pesona dan bunga raflesia sebagai puspa langka. Tiga satwa langka yang
ditetapkan sebagai satwa nasional adalah Komodo, ikan siluk merah dan
elang jawa. Kerajinan batik dan tenun ikat, kerajinan tikar, patung, dan
lain-lain. Kekayaan sunber daya hayati juga nampak pada penggunaan
maskot flora dan fauna di senua propinsi di Indonesia sebagai identitas.
Konservasi Keanekaragaman Hayati
Pemanfaatan
sumber daya hayati untuk berbagai keperluan secara tidak seimbang
ditandai dengan makin langkanya beberapa jenis flora dan fauna karena
kehilangan habitatnya, kerusakan ekosisitem dan menipisnya plasma
nutfah. Hal ini harus dicegah agar kekayaan hayati di Indonesia masih dapat menopang kehidupan. Konservasi sumber daya hayati di Indonesia
diatur oleh UU No 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup.
Azas yang digunakan dalam pengelolaan linggungan hidup adalah azas
tanggung jawab, berkelanjutan dan manfaat. Upaya konservasi keaneka
ragaman ekosisitem di Indonesia
silakukan secara insitu yang menekankan terjaminnya terpeliharanya
keaneka ragaman hayati secara alami melalui proses evolusi. Saat ini
kawasan konservasi yang ada di Indonesia terkelompok menjadi 180 cagar
alam, 72 suaka margasatwa, 70 taman wisata, 13 taman buru, 17 taman
nasional dan 3 taman hutan raya serta 13 taman laut. Dalam rangka kerja
sama konservasi internasional, 6 dari kawasan suaka alam dijadikan cagar
biosfer. Cagar biosfer ini suatu kawasan yang terdiri dari ekosisitem
asli, unik dan atau ekosisitem yang telah mengalami degradasi yang
dilindungi dan dilestarikan untuk kepentingan penelitian dan pendidikan.
Taman nasional di Indonesia mulai
dikembangkan tahun 1980. Lima taman nasional pertama yaitu taman
nasional gunung Leuser, taman nasional ujung Kulon, Taman nasional Gede
Pangrango, taman nasional Baluran dan Taman nasional Komodo
diperuntukkan untuk melindungi dan mengawetkan warisan alami bangsa
Indonesia.
Pelestarian keanekaragaman jenis di Indonesia
dilakukan baik secara insitu maupun eksitu. Pelestarian eksitu berarti
memindahkan jenis dari habitatnya untuk dilestarikan dan diamankan.
Pendirian kebun raya Bogor,
kebun binatang, penangkaran hewan langka seperti badak, jalak bali,
rusa timor, kayu hitam sawo kecik dan lain-lain merupakan upaya
pelestarian exsitu yang tidak perlu mengganggu populasi alaminya.
Pelestarian plasma nutfah di Indonesia
dilakukan baik secara insitu maupun eksitu. Pemuliaan tanaman saat ini
ditujukan pada tanaman budi daya seperti padi, anggrek serta kultivar
lainnya. Untuk hewan upaya penangkaran dan persilangan dilakukan pada
berbagai jenis satwa piaraan seperti sapi, kambing, kuda dan ayam. Kebun
koleksi plasma nutfah yang ada di Indonesia
sampai daat ini belum menghasilkan banyak kultivar unggul baru. Kebun
koleksi buah di Paseh dan Cibinong, kebun koleksi mangga di Grati,
koleksi kopi di Ijen dan koleksi kelapa di Bone-Bone belum menampakkan
hasil yang diharapkan sebagai sumber plasma nutfah. Sebenarnya secatra
tradisional masyarakat Indonesia
telah memiliki pola pelestarian alam yang ekologis, misalnya tidak
boleh menebang pohon beringin, tidak boleh mengambil ikan di lubuk, dan
lain-lain, namun karena kemajuan teknologi warisan tradisional tersebut
memudar.
- Macam-macam Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati.
usaha peletarian keanekaragam hayati di indonesia telah diresmikan oleh pemerintah dan mendirikanya,misalnya:
1.Taman Nasional
taman
nasional adalah kawasan konservasi alam dengan ciri khas tertentu baik
diaratan maupun di perairan.taman nasional memiliki fungsi ganda
yaituperlindungan terhadap siste penyngga kehidupan dan perlindungan
jenis tumbuhan dan hewan serta pelestarian sumberdaya alam hayati dan
ekosistemnya.taman nasional juga penting untuk ilmu
pengetahuan,pendidikan,budaya,dan rekreasi alam.dan beberapa taman
nasional di indonesia adalah sebagai berikut:
a).taman nasional gunung lauser
taman
nasoinal (TN) ini terletak di propinsi sumatera utara dan propinsi
daerah istimewa aceh,dengan ketinggian 0-3.381 m di atas permukaan
laut,dengan luas 1.095.192ha ,dan flora langkah yang dilindungi dalah
bunga raflesia arnoldiivar.dan fauna yang di
lindungi:gajah,beruang malaya,harimau sumatera,badak sumatera,orang utan
sumatera,macan akar,burung kuda,kambing sumba,itik liar dan tapir
b).taman nasional kerinci sablat
taman
nasional ini terletak di 4 propinsi yaitu:jambi,sumatera barat,sumatera
selatan,bengkulu.jenis flora yang dilindungi:bunga
raflesia,anggrek,pasang,kismis.dan jenis fauna yang dilinduni:
tapir,simpoi,bangka,barang-berang,ungko,kelinci,landak,tikus hutan,babi
batang,badak sumatera,gajah,harimau sumatera,harimau kumbang,simang kera
ekor panjang,kancil,muncak dan rusa.
c).taman nasional bukit narisan selatan
Luasnya
adalah 356.800 Ha,membentang dari ujung selatan propinsi bengkulu
sampai ujung selatan propinsi bengkulu.dan jenis faunanya antara lain:
meranti, keruing, pengarawang, pasang, bayur, damar, kemiri, cemara
gunung, mengkudu, jenis fauna yang dilindungi antara lain:owa, babi
rusa, kijang gajah, tapir, kambimg hutan, kerbau liar, badak, macan
tutul, landak dan teringgiling.
d).taman nasional ujung kulon
taman
ini terletak di ujung paling barat pulau jawa,dan fauna yang dilindungi
dan hampir punah antar lain:badak bercula satu,banteng gibon
jawa,harimau loreng dan surili
e)taman nasional gunung gede-pangarongo
taman
ini terletak di kabupaten bogor,cianjur dan suka bumi.dan flora yang
dilindungi:pohon raksasa yang ada adalah rasmala mencapai tinggi60 m dan
satwa yang masih ada yaitiu,gibon jawa,surili,kera,lutung dan macan
tutul
f).taman nasional komodo
taman
ini terletak pada di pulau komodo,rinca,podang,gilimotong.dan flora
yang dilindungi dalah kayu hitam,bayur, dan fauna/satwa yang khas
adalah,komodo.
2).Cagar alam
Cagar
alam adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas tumbuhan,satwa
dan ekosistem,yang perkembanganya diserahkan pada alam dan untuk
membudidyakan fauna dan flora yang hampir punah.
3).hutan wisata
Hutan
wisata adalah kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat wilayahnya
perlu di bina dan di pertahankan sebagai hutan,yang dapat dimanfaat
kanbagi kepentingan pendidikan,konservasia alam,dan rekreasi.misalnya
pangandaran
4).taman hutan raya
Taman
hutan raya adalah kawasan konservasi alam yang terutama dimanfaatkan
untuk koleksi tumbuhan dan hewan.alami atau non alami,jenis asli atau
pendatang, yang berguna untuk perkembangan ilmu
pengetahuan,pendidikan,kebudayaan,dan rekreasi.taman ini dapat disebut
sebagai taman propinsi,misalnya pulau sempu di jawa timur
5).taman laut
Taman
laut adalah wilayah lautan yang mempunyai ciri khas berupa keindahan
alam atau keunikan alam yang ditunjuk sebagai kawasan konservasi
alam,yang diperuntukkan guna melidungi plasma nutfah lautan.misal
Bunaken di sulawesi utara.
6).Wana wisata
Wana
wisata adalah kawasan hutan yang disamping fungsi utamanya sebagai
hutan produksi,juga di manfaatkan sebagai obyek wisata hutan
7).hutan lindung
Hutan
lindung adalah kawasan hutan alam yang biasanyaterletak di daerah
pegunungan yang di konservasikan untuk tujuan melindungi lahan agar
tidak tererosi an untuk mengatur tata air.
8).kebun raya
Kebun
raya adalah kumpulan tumbu-tumbuhan di suatu tempat,dan tumbu-yumbuhan
tersebut brasal dari berbagai daerah yang ditanam untuk tujuan
konservasi,ilmu pengetahuan,dan rekreasi.misalnya keun raya bogor dan
purwodadi.selain tempat-tempatyang telah disebutkandi atas yang memang
ditetapkan oleh pemerintahsebagai tempat konsrvasi,sebenarnya masyarakat
pun dapat dapat berpartisipasi alam pelestarian keanekaragaman
hayati.bentuk partisipasi masyarakat dalam pelestarian keanekaragaman
hayati misalnya:
1. Memperkya koleksi tanaman di pekarangan rumah
2. Tidak membunuh burung dan hewan-hewan lainya
3. Tidak membuang limbah sembarangan,terutama limbah pabrik,limbah rumah tangga,dan limbah pestisida.
- Manfaat dalam Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati.
Keanekaragaman
hayati merupakan anugerah terbesar bagi umat manusia. Manfaatnya antara
lain adalah (1) Merupakan sumber kehidupan, penghidupan dan
kelangsungan hidup bagi umat manusia, karena potensial sebagai sumber
pangan, papan, sandang, obat-obatan serta kebutuhan hidup yang lain (2)
Merupakan sumber ilmu pengetahuan dan tehnologi (3) mengembangkan sosial
budaya umat manusia (4) Membangkitkan nuansa keindahan yang
merefleksikan penciptanya.
Keanekaragaman Hayati Sebagai Sumber Pangan Di Indonesia
Kebutuhan karbohidrat masyarakat Indonesia
terutama tergantung pada beras. Sumber lain seperti jagung, ubi jalar,
singkong, talas dan sagu sebagai makanan pokok di beberapa daerah mulai
ditinggalkan. Ketergantungan pada beras ini menimbulkan krisis pangan
yang seharusnya tidak perlu terjadi. Selain tanaman pangan yang telah
dibudidaya, sebenarnya Indonesia mempunyai 400 jenis tanaman penghasil
buah, 370 jenis tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman berumbi, 60
jenis tanaman penyegar dan 55 jenis tanaman rempah rempah. Perikanan
merupakan sumber protein murah di Indonesia.
Kita mempunyai zona ekonomi eksklusif yaitu 200 mil dari garis pantai
yang dapat dipergunakan oleh nelayan untuk mencari nafkah. Budi daya
udang , bandeng dan lele dumbo sangat potensial juga sebagai sumber
pangan. Oncom , tempe, kecap, tape, aru (minuman khas daerah Timor), gatot, merupakan makanan suplemen yang disukai masyarakat Indonesia.
Jasa mikro organisme seperti kapang, yeast dan bakteri sangat
diperlukan untuk pembuatan makanan ini. Beberapa jenis tanaman seperti
suji, secang, kunir, gula aren, merang padi, pandan banyak digunakan
sebagai zat pewarna makanan.
Keanekaragaman Hayati Sebagai Sumber Sandang Dan Papan
Kapas, rami, yute, kenaf, abaca, dan acave serta ulat sutera potensial sebagai bahan sandang. Tanaman ini tersebar di seluruh Indonesia, terutama di Jawa dan Kalimantan dan Sulawesi.
Di samping itu beberapa Suku di Kalimantan, Irian dan Sumatera
menggenakan kulit kayu, bulu- bulu burung serta tulang-tulang binatang
sebagai asesoris pakaian mereka. Sementara masyarakat pengrajin batik
menggunakan tidak kurang dari 20 jenis tanaman untuk perawatan batik
tulis termasuk buah lerak yang berfungsi sebagai sabun. Masyarakat suku
Dani di Lembah Baliem Irian Jaya menggunakan 6 macam tumbuhan sebagai
bahan sandang. Untuk membuat yokal (pakaian wanita yang sudah menikah)
menggunakan jenis tumbuhan (Agrostophyllum majus) dan wen (Ficus
drupacea). Untuk pakaian anak gadis dipergunakan jenis tumbuhan kem
(Eleocharis dulcis). Untuk membuat koteka/holim yaitu jenis pakaian pria
digunakan jenis tanaman sika (Legenaria siceraria). Sedangkan pakaian
perang terbuat dari mul (Calamus sp).
Rumah adat di Indonesia
hampir semuanya memerlukan kayu sebagai bahan utama. Semula kayu jati,
kayu nangka dan pokok kelapa (glugu) dipergunakan sebagai bahan
bangunan. Dengan makin mahalnya harga kayu jati saat ini berbagai jenis
kayu seperti meranti, keruing, ramin dan kayu kalimantan dipakai juga
sebagai bahan bangunan.Penduduk Pulau Timor dan Pulau Alor menggunakan
lontar (Borassus sundaicus) dan gewang (Corypha gebanga) sebagai atap
dan didinding rumah. Beberapa jenis palem seperi Nypa fruticas,
Oncosperma horridum, Oncossperma tigillarium dimanfaatkan oleh penduduk
Sumatera, Kalimantan dan Jawa untuk bahan bangunan rumah.Masyarakat
Dawan di Pulau Timor memilih jenis pohon timun (Timunius sp), matani
(Pterocarpus indicus), sublele (Eugenia sp) sebagai bahan bangunan
disamping pelepah lontar, gewang dan alang-alang (Imperata cyllndrica)
untuk atap.
Keanekaragaman Hayati Sebagai Sumber Obat dan Kosmetik
Indonesia memiliki 940 jenis tanaman obat, tetapi hanya 120 jenis yang masuk dalam Materia medika Indonesia. Masyarakat pulau Lombok mengenal 19 jenis tumbuhan sebagai obat kontrasepsi. Jenis tersebut antara lain pule, sentul, laos,
turi, temulawak. Alang-alang, pepaya, sukun, lagundi, nanas, jahe,
jarak, merica, kopi, pisang, lantar, cemara, bangkel, dan duwet. Bahan
ini dapat diramu menjadi 30 macam. Masyarakat jawa juga mengenal paling
sedikit 77 jenis tanaman obat yang dapat diramu untuk pengobatan segala
penyakit Masyarakat Sumbawa mengenal 7 jenis tanaman untuk ramuan minyak
urat yaitu akar salban, akar sawak, akar kesumang, batang malang, kayu
sengketan," ayu sekeal, kayu tulang. Masyarakat Rejang Lebong Bengkulu
mengenal 71 jenis tanaman obat. Untuk obat penyakit malaria misalnya
masyarakat daerah ini menggunakan 10 jenis tumbuhan. Dua di antaranya
yaitu Brucea javanica dan Peronemacanescens merupakan tanaman langka.
Cara pengambilan tumbuhan ini dengan mencabut seluruh bagian tumbuhan,
mengancam kepunahan tanaman ini. Masyarakat Jawa Barat mengenal 47 jenis
tanaman untuk menjaga kesehatan ternak terutama kambing dan domba. Di
antara tanaman tersebut adalah bayam, jambe, temu lawak, dadap, kelor,
lempuyang, katuk, dan lain-lain. Masyarakat Alor dan Pantar mempunyai 45
jenis ramuan obat untuk kesehatan ternak sebagai contoh kulit kayu
nangka yang dicampur dengan air laut dapat dipakai untuk obat diare pada
kambing. Di Jawa Timur dan Madura dikenal 57 macam jamu tradisional
untuk ternak yang menggunakan 44 jenis tumbuhan. Jenis tumbuhan yang
banyak digunakan adalah marga curcuma (temuan-temuan). Di daerah Bone
Sulawesi Utara ada 99 jenis tumbuhan dari 41 suku yang diprgunakan
sebagai tanaman obat. Suku Asteraceae, Verbenaceae, Malvaceae,
Euphorbiaceae, dan Anacardiaceae merupakan suku yang paling banyak
digunakan.
Potensi
keanekaragaman hayati sebagai kosmetik tradisional telah lama dikenal.
Penggunaan bunga bungaan sepeti melati, mawar, cendana, kenanga,
kemuning, dan lain-lain lazim dipergunakan oleh masyarakat terutama Jawa
untuk wewangian. Kemuning yang mengandung zat samak dipergumakan oleh
masyarakat Yogyakarta untuk membuat lulur
(9 jenis tumbuhan) yang berhasiat menghaluskan kulit. Tanaman pacar
digunakan untuk pemerah kuku, sedangkan ramuan daun mangkokan, pandan,
melati dan minyak kelapa dipakai untuk pelemas rambut. Di samping itu
masyarakat Jawa juga mengenal ratus yang diramu dari 19 jenis tanaman
sebagai pewangi pakaian, pemangi ruangan dan sebagai pelindung pakaian
dari serangan mikro organisme. Di samping semuanya ini Indonesia
mengenal 62 jenis tanaman sebagai bahan pewarna alami untuk semua
keperluan, seperti misalnya jambu hutan putih yang digunakan sebagai
pewama jala dan kayu malam sebagai cat batik.
- Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Pemanfaatan keanekaragaman hayati melalui usaha pelestarian
1.
Tebang pilih, yaitu penebangan pohon secara selektif (terpilih) bagi
pohon-pohon yang memenuhi persyaratan untuk ditebang, baik dari segi
umur, ketersediaan jenisnya, maupun jumlahnya.
2. Reboisasi, yaitu penanaman kembali hutan bekas tebangan dengan tumbuhan yang masih muda.
3.
Perburuan musiman, yaitu pemanfaatan SDA pada musim tertentu, yaitu
menghindari berburu pada musim kawin, masa hamil, atau masa beranak.
4.
Penganekaragaman bahan pangan, yaitu pemanfaatan SDA sebagai bahan
pangan secara bervariasi dengan menghindari penggunaan bahan makanan
satu jenis saja sehingga tidak menghabiskan jenis tersebut.
Pelestarian keanekaragaman hayati melalui usaha perlindungan
1. Perlindungan alam, dalam usaha menjaga kelestarian alam. Ada 2 cara, yaitu:
a) pelestarian in situ,
yaitu pelestarian alam di habitat aslinya. Misalnya taman wisata, taman nasional, dan hutan lindung.
b) pelestarian ex situ,
pelestarian alam bukan di habitat aslinya. Misalnya kebun koleksi, kebun botani, kebun binatang, dan kebun plasma nuftah.
2. Macam-macam perlindungan alam
a) perlindungan alam umum,
yaitu
secara terbimbing oleh para ahli atau diarahkan (seperti Kebun Raya
Bogor dan Taman Nasional), dan secara ketat yang sesuai kehendak alam
tanpa adanya campur Tangan manusia kecuali jika diperlukan.
b) perlindungan alam khusus,
yaitu
yang ditujukan kepada satu atau beberapa unsure alam tertentu.
Contohnya: perlindungan botani, perlindungan zoology, perlindungan
geologi, perlindungan alam antropologi, dan perlindungan ikan.
c) Perlindungan satwa langka,
yaitu yang dikenal dengan suaka marga satwa. Cara pelestariannya diantaranya:
1) dibuat undang-undang perburuan serta tindakan hukuman bagi pelanggar.
2) membiarkan hewan-hewan langka yang hamper punah.
3) memindahkan hewan langka yang hamper punah ke habitat yang lebih cocok.
BAB V
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Keanekaragaman
hayati atau biodiversitas merupakan himpunan seluruh populasi penghuni
biosfer, yaitu terdiri dari seluruh wilayah udara, tanah, dan air tempat
makhluk hidup tinggal. Di dalam makhluk hidup terkandung plasma nuftah
(germplasm), yaitu kisaran keanekaragaman genetic dari individu liar
sampai individu budidaya. Penyebab utama keanekaragaman makhluk hidup
ini adalah gem.Usaha pelestarian keanekaragaman hayati adalah usaha
untuk melindungi kekayaan jenis tumbuhan (flora) dan kekayaan hewan
(fauna), serta mikroorganisme untuk melestarikan agar tidak punah.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, beberapa saran yang ingin penulis sampaikan adalah :
1.) Sebagai manusia hendaknya kita melestarikan semua yang telah diciptakan oleh Sang Pencipta.
2.) Adanya kesadaran diri individual untuk tidak mementingkan keegoisan diri masing-masing.
3.) Sebagai
makhluk tuhan yang beriman hendaknya kita mempergunakan sumber daya
hayati secara baik dan benar serta terus bersyukur atas karunianya.,
DAFTAR PUSTAKA
”Keanekaragaman Hayati (Upaya)”, 26 November 2009, www.wikipedia.com
Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sudjadi, Bagod.2007.Biologi 1 SMA/MA Kelas X.Juni 2007.Cetakan Pertama.Yudistira

0 comments:
Post a Comment