Template Information

Home » » SALING KETERGANTUNGAN ANTARA TUMBUHAN DAN HEWAN'

SALING KETERGANTUNGAN ANTARA TUMBUHAN DAN HEWAN'


BAB I.
PENDAHULUAN
a)   LATAR BELAKANG
      Ekosistem tersusun dari beberapa komponen. Antara komponen-komponen ekosistem terjadi saling ketergantungan, yang berupa makan dimakan, atau dalam bentuk persekutuan hidup. Makhluk tergantung pada lingkungannya, baik lingkungan abiotik atau biotik. Keadaan komponen abiotik yang sesuai bagi satu jenis makhluk berbeda untuk jenis makhluk yang lainnya. Dalam ekosistem lingkungan abiotik sangat menentukan jenis-jenis makhluk yang dapat sesuai dengan lingkungan tertentu.
Di daerah yang banyak pohon terasa lebih sejuk dibandingkan dengan yang jarang ada pohonnya. Pohon-pohon yang besar dapat mempengaruhi suhu suatu tempat. Dari hal-hal di atas tampak bahwa komponen biotik dan abiotik itu saling mempengaruhi. Ada saling ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik.
Di daerah yang banyak pohon terasa lebih sejuk dibandingkan dengan yang jarang ada pohonnya. Pohon-pohon yang besar dapat mempengaruhi suhu suatu tempat. Dari hal-hal di atas tampak bahwa komponen biotik dan abiotik itu saling mempengaruhi. Ada saling ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik.

b)  RUMUSAN MASALAH
1.     Mengapa gelas percobaan harus diletakkan pada tempat yang cukup mendapatkan sinar matahari ?
2.    Jelaskan keadaan warna air pada masing-masing gelas !
3.    Tuliskan reaksi fotosintesis dan respirasi !
4.     Buatlah kesimpulan dari percobaan ini !
c)   TUJUAN PRAKTIKUM
Ø  Untuk Membuktikan Adanya Saling Ketregantungan Antara Tumbuhan & Hewan
BAB II.
KAJIAN PUSTAKA
a)    FOTOSINTESIS

         Fotosintesis adalah suatu proses biokimia anabolisme, pembentukan zat makanan atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof.
          Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang
b)    RESPIARASI

         Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi.

Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu). Secara umum, respirasi karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + O2 6CO2 + H2O + energi
Reaksi di atas merupakan persamaan rangkuman dari reaksi-reaksi yang terjadi dalam proses respirasi. Reaksi tersebut terlihat sangat sederhana, terlihat seakan respirasi merupakan reaksi tunggal, sehingga mungkin dapat agak menyesatkan karena respirasi yang sebenarnya bukanlah reaksi tunggal. Respirasi merupakan rangkaian dari banyak reaksi komponen, yang masing-masingnya dikatalisis oleh enzim yang berbeda.
Respirasi dapat digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan ketersediaan O2 di udara, yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob. Respirasi aerob merupakan proses respirasi yang membutuhkan O2, sebaliknya respirasi anaerob merupakan proses repirasi yang berlangsung tanpa membutuhkan O2. Respirasi anaerob sering disebut juga dengan nama fermentasi. Perbedaan antara keduanya akan terlihat pada proses tahapan reaksi dalam respirasi.

Respirasi banyak memberikan manfaat bagi tumbuhan. Manfaat tersebut terlihat dalam proses respirasi dimana terjadi proses pemecahan senyawa organik, dari proses pemecahan tersebut maka dihasilkanlah senyawa-senyawa antara yang penting sebagai ”Building Block”. Building Block merupakan senyawa-senyawa yang penting sebagai pembentuk tubuh. Senyawa-senyawa tersebut meliputi asam amino untuk protein; nukleotida untuk asam nukleat; dan prazat karbon untuk pigmen profirin (seperti klorofil dan sitokrom), lemak, sterol, karotenoid, pigmen flavonoid seperti antosianin, dan senyawa aromatik tertentu lainnya, seperti lignin.
Telah diketahui bahwa hasil akhir dari respirasi adalah CO2 dan H2O, hal ini terjadi bila substrat secara sempurna dioksidasi, namun bila berbagai senyawa di atas terbentuk, substrat awal respirasi tidak keseluruhannya diubah menjadi CO2 dan H2O. Hanya beberapa substrat respirasi yang dioksidasi seluruhnya menjadi CO2 dan H2O, sedangkan sisanya digunakan dalam proses anabolik, terutama di dalam sel yang sedang tumbuh. Sedangkan energi yang ditangkap dari proses oksidasi sempurna beberapa senyawa dalam proses respirasi dapat digunakan untuk mensintesis molekul lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
Ketersediaan substrat. Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.
Ketersediaan Oksigen. Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
Suhu. Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies.
Tipe dan umur tumbuhan. Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Proses r1espirasi diawali dengan adanya penangkapan O2 dari lingkungan. Proses transport gas-gas dalam tumbuhan secara keseluruhan berlangsung secara difusi. Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel tumbuhan dengan jalan difusi melalui ruang antar sel, dinding sel, sitoplasma dan membran sel. Demikian juga halnya dengan CO2 yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel dan masuk ke dalam ruang antar sel. Hal ini karena membran plasma dan protoplasma sel tumbuhan sangat permeabel bagi kedua gas tersebut.
Setelah mengambil O2 dari udara, O2 kemudian digunakan dalam proses respirasi dengan beberapa tahapan, diantaranya yaitu glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, siklus asam sitrat, dan transpor elektron. Tahapan yang pertama adalah glikolisis, yaitu tahapan pengubahan glukosa menjadi dua molekul asam piruvat (beratom C3), peristiwa ini berlangsung di sitosol. As. Piruvat yang dihasilkan selanjutnya akan diproses dalam tahap dekarboksilasi oksidatif. Selain itu glikolisis juga menghasilkan 2 molekul ATP sebagai energi, dan 2 molekul NADH yang akan digunakan dalam tahap transport elektron.
Dalam keadaan anaerob, As. Piruvat hasil glikoisis akan diubah menjadi karbondioksida dan etil alkohol. Proses pengubahan ini dikatalisis oleh enzim dalam sitoplasma. Dalam respirasi anaerob jumlah ATP yang dihasilkan hanya dua molekul untuk setiap satu molekul glukosa, hasil ini berbeda jauh dengan ATP yang dihasilkan dari hasil keseluruhan respirasi aerob yaitu 36 ATP.
Tahapan kedua dari respirasi adalah dekarboksilasi oksidatif, yaitu pengubahan asam piruvat (beratom C3) menjadi Asetil KoA (beratom C2) dengan melepaskan CO2, peristiwa ini berlangsung di sitosol. Asetil KoA yang dihasilkan akan diproses dalam siklus asam sitrat. Hasil lainnya yaitu NADH yang akan digunakan dalam transpor elektron.

Tahapan selanjutnya adalah siklus asam sitrat (daur krebs) yang terjadi di dalam matriks dan membran dalam mitokondria, yaitu tahapan pengolahan asetil KoA dengan senyawa asam sitrat sebagai senyawa yang pertama kali terbentuk. Beberapa senyawa dihasilkan dalam tahapan ini, diantaranya adalah satu molekul ATP sebagai energi, satu molekul FADH dan tiga molekul NADH yang akan digunakan dalam transfer elektron, serta dua molekul CO2.
Tahapan terakhir adalah transfer elektron, yaitu serangkaian reaksi yang melibatkan sistem karier elektron (pembawa elektron). Proses ini terjadi di dalam membran dalam mitokondria. Dalam reaksi ini elektron ditransfer dalam serangkaian reaksi redoks dan dibantu oleh enzim sitokrom, quinon, piridoksin, dan flavoprotein. Reaksi transfer elektron ini nantinya akan menghasilkan H2O.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses respirasi suatu organisme antara lain: umur/usia organisme tersebut, bobot dari kegiatan yang dilakukan, ukuran organisme itu sendiri, keadaan lingkungan sekitar, serta cahaya juga mempengaruhi rata-rata pernapasan. Untuk mengetahui bahwa kecambah kacang hijau melakukan respirasi atau tidak, maka kita dapat mengamati tabung respirometer. Jika kecambah kacang hijau dalam tabung berespirasi maka kita akan menemukan uap air yang menempel dalam tabung respirometer, tetapi jika tidak ada uap air itu artinya kecambah kacang hijau tidak berespirasi. Adanya uap air dijadikan indikator respirasi karena dalam proses respirasi akan dilepaskan karbon dioksida dan uap air. Dalam pengamatan ini kita harus teliti dalam mengoleskan vaselin pada sumbat, jangan sampai ada rongga udara yang masih terbuka karena hal ini bisa mengganggu pengamatan.

Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untak kegiatan kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak, pertumbuhan.
c)      SALING KETERGANTUNGAN
      Dengan menyadari adanya saling ketergantungan antara makhluk hidup dan lingkungannya, kamu akan lebih mengharagai semua ciptaan Tuhan itu.
Di semua tempat terjadi hubungan saling ketergantungan antara makhluk hidup dan lingkungannya. Di sawah, kolam, kebun, sungai, danau, dan laut, berbagai makhluk hidup tinggal bersama. Tempat berlangsungnya hubungan saling ketergantungan antara makhluk hidup dan lingkungannya disebut ekosistem. Sawah, kolam, kebun, sungai, danau, dan laut adalah bentuk ekosistem.
Ekosistem dibedakan atas 2 bentuk , yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan. Ekosistem alam  meliputi  antara lain hutan, sungai, danau, laut, padang pasir, dan kutub. Ekosistem buatan meliputi antara lain sawah, ladang, kebun, kolam, dan akuarium.
Setiap ekosistem memili beberapa anggota, baik makhluk hidup maupun benda tidak hidup. Makhluk hidup yang berhubungan dengan makhluk lain disebut komunitas. Jadi, komunitas adalah kelompok makhluk hidup berbeda yang tinggal bersama dalam suatu lingkungan tertentu. Misalnya, komunitas di ekosistem terdiri dari harimau, monyet, ular, dan pohon jati.
BAB III.
METODE PRAKTIKUM
a)    WAKTU DAN TEMPAT
Praktikum dilaksanakan pada hari rabu jam pelajaran ke-2 bertempat dihalaman sekolah. Dan pengamatan dilakukan selama 2 hari    
b)   ALAT DAN BAHAN
1.     Gelas Akua              = 4 buah
2.    Plastik Transparan  = 4 lembar
3.    Karet Gelang           = 4 buah
4.    Kertas label             = 4 lembar
5.    Hydrilla verticillata = 4 pucuk
6.    Siput & air tawar     = 4 ekor
7.    Air                           = 4 Gelas
8.    Methilen blue
c)    CARA KERJA
1.     Memberi label tanda A, B, C, D pada masing" gelas
2.    Mengisi gelas dengan air kemudian di tetesi dengan methilen blue
3.    Mengisi gelas A dengan 2 ekor siput. Gelas B dengan 2 hydrilla, Gelas C diisi dengan 2 ekor siput & 2 tanaman hydrilla, dan gelas D di biarkan kosong
4.    Menutup masing-masing gelas dengan pelastik & mengikatnya dengan karet gelang
5.    Meletakkan ke-4 gelas tersebut pada tempat yang cukup mendapat sinar matahari
6.    Melakukan Pengamatan Selama 2 Hari Pada Pagi & Siang Hari
7.    Mencatat Hasil Pengamatan Pada Tabel Pengamatan
BAB IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
a)  TABEL PENGAMATAN
 Hari
  ke
                                               warna
       Gelas A
        Gelas B
        Gelas C
         Gelas D
 nomor
Pagi
Siang
Pagi
Siang
Pagi
Siang
Pagi
siang
1
Biru muda
Biru ketuaan
Biru kehijau-hijauan
Hijau ketuaan
Hijau
Biru kehijauan
Tidak ada perubahan warna
Tidak ada perubahan warna
2
Bening
Pudar
Biru kehijauan
Hijau muda
Biru keruh
Hijau muda
Tidak ada perubahan warna
Biru muda
b)  PEMBAHASAN

Hari pertama ::
-      Gelas A (pagi) warnanya berubah menjadi biru muda
-      Gelas A (siang) warnanya berubah jadi biru tua
-      Gelas B (pagi) Warnanya berubah  menjadi biru kehijauan karena adanya interaksi antara cairan Metilen Blue dengan tumbuhan hydrilla
-      Gelas B (siang) warnanya berubah menjadi hijau tua
-      Gelas C (pagi) warnanya berubah menjadi hijau
-      Gelas C (siang) Warnanya berubah  menjadi biru kehijauan karena adanya interaksi antara cairan Metilen Blue dengan tumbuhan hydrilla
-       Gelas D (pagi) tidak ada perubahan warna karena tidak ada interaksi didalamnya
-      Gelas D (siang) tidak ada perubahan warna
Hari ke-2 ::
-      Gelas A (pagi) Warnanya berubah menjadi bening karena siput menyerap cairan Methillen Blue
-      Gelas A (siang) warnanya berubah menjadi pudar
-      Gelas B (pagi) warnanya tetap biru kehijauan
-      Gelas B (siang) warnanya berubah menjadi hijau muda
-      Gelas C (pagi) warnanya berubah menjadi biru keruh
-      Gelas C (siang) warnanya berubah menjadi hijau muda
-      Gelas D (pagi) tidak ada perubahan warna
-      Gelas D (siang) warnanya berubah menjadi biru muda
BAB V.
KESIMPULAN DAN SARAN
a)    KESIMPULAN
        Hubungan antar makhluk hidup dengan lingkungannya sangat erat dan  saling ketergantungan, karena makhluk yang satu membutuhkan bantuan makhluk lain. Makhluk hidup membutuhkan lingkungan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya lingungan juga membutuhkan makhluk hidup dalam kelangsungan hidupnya.
Ekosistem adalah kesatuan komunitas dengan lingkungannya yang membentuk hubungan timbal balik. Ekosistem tersusun atas dua komponen utama, yaitu komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik adalah komponen ekosistem yang hidup yang terdiri dari makhluk hidup yang meliputi tumbuhan, hewan dan manusia. Komponen abiotik adalah komponen ekosistem yang tak hidup yang meliputi tanah, air, udara, cahaya matahari, suhu atau temperature, mineral dan gas.
Dari segi makanan ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu:
(1) Organisme Autotrof, adalah organisme yang dapat membuat makanan sendiri dengan memanfaatkan bahan organik yang terdapat di lingkungannya;
(2) Organisme Heterotrof, adalah organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri dan mendapatkan makanannya dari makhluk hidup lain.
Berdasarkan terbentuknya, ekosistem dibedakan menjadi dua, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan. Selain itu, ekosistem juga dapat berubah karena beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya : gangguan alam, tindakan manusia, penggunaan pestisida yang berlebihan dan sebagainya.
b)  SARAN
      Setiap makhluk hidup membutuhkan lingkungan yang sehat sebagai tempat tinggal. Oleh karena itu, kita harus menjaga kebersihan tempat lingkungan terutama disekitar tempat tinggal kita.
       Jagalah kelestarian dan keberlangsungan hidup makhluk hidup, karena makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya saling ketergantungan dan tidak dapat hidup sendiri.
 
DAFTAR PUSTAKA
Diakses      tanggal 12 Oktober 2011
Champbell, N.A, dkk. 2002. “Biologi”- Edisi lima Jilid satu. Erlangga: Jakarta.
Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Pratiwi, dkk.2003. Biologi SMA Jilid II. Erlangga. Jakarta.
Salisbury, Frank and Ross, Cleon. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Penerbit         ITB: Bandung.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Recent Templates

Template Information

Random Template

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FOKUS MAKALAH - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger